Satu Hari dibulan Juli Yang Kejam

SATU HARI DIBULAN JULI YANG KEJAM
juli,2019

        Berada dititik terlemah, tanpa ada support system disamping tepat pada saat saya menangis . Pikiran tak lagi lurus, bahkan oleng saya rasa. sejuta kata "Mengapa, Kenapa" terangkai dikepala mencoba menyalahkan Tuhan??? Pasti!! Mengatakan Tuhan paling tak adil??? Oh saya paling depan.

        " Tuhan mau pakai saya gimana sih?"
        " Kenapa Tuhan ga izinin?"
        "Tuhan, saya udah cukup tersiksa selama ini"
        " Tuhan, reward saya dari Tuhan mana???"
        "Kenapa Tuhan biarin saya gagal??"
        “ Bagaimana bisa saya sanggup menerima 2 kegagalan di hari yang sama secara berturut turut Tuhan?”
     
          Banyak kalimat pemberontakan yang saya sampaikan saat itu keTuhan, tapi apa sama saja bukan? Tak ada hasil tak ada yang berubah. Setelah kabar buruk itu, saat bangun pagi saya selalu menanti malam yang ironisnya matahari tenggelam terasa lebih lama dari biasanya.Sama seperti hari sebelumnya, mendengar musik, kemudian menangis, mencoba nyalahkan Tuhan, membuat perbandingan diri dengan mereka yang pencapaiannya berhasil.Tiap hari mencari cara bagaimana meyakinkan diri semua akan baik baik saja.
          5 hari sudah berita kegagalan itu, selama itu juga saya menjalani hidup dalam ketidakwarasan, memberi reward kepada diri sendiri pun tak dapat menghibur. Mencoba menyangkal kenyataan, mengalihkan diri dan konstan menipu diri. Saat itu saya butuh teman bicara, tapi satupun tak ada yang bisa tepat disamping saya. Tiap hari masih sama saya tetap mengutuk diri sendiri.
          Setelah sadar dari ketidakwarasan , saya sadar saya tidak sendiri ada DIA, dan dihari saya gagal DIA ngasih saya teman bicara walaupun semua itu via telfon dan pada awalnya saya sempat menreject semua panggilan masuk yang saya tau pasti hendak bertanya kabar perihal kelulusan saya.
          Bingung hendak memulai dari mana, menjadi pemberontak atas tidak terimanya kenyataan, atau mulai hidup baru dengan mindset baru juga. 

Eka Angelin   

Komentar